Iyyaka na' budu...,
Minggu, 03 Juni 2012
0
komentar
Kisah ini diceritakan oleh Syaikh Akbar Ibnu Arabi
dalam kitabnya Al Futuhat Al Makkiyah. Berikut petikannya:
Seorang ustadz bercerita bahwa ia memiliki seorang
murid kecil yang terbiasa membaca Al Quran kepadanya. Suatu hari, ia melihat
wajah muridnya sayu. Ia pun bertanya tentang kondisi murid itu kepada
teman-temannya. Ada yang menjawab bahwa anak itu telah shalat malam dengan
mengkhatamkan seluruh Al Quran.
Ia lalu bertanya kepadanya, “Wahai anakku, saya
diberitahu bahwa kamu semalam mengkhatamkan seluruh Al Quran dalam shalatmu.”
“Benar, ustadz.” jawab murid itu.
“Wahai anakku, nanti malam, bayangkanlah wajahku di
depanmu sewaktu kamu shalat lalu bacalah Al Quran di hadapanku dan jangan kamu
lalai.”
“Ya, ustadz.”
Ketika pagi hari, ia bertanya, “Apakah kamu sudah
melakukan apa yang aku pesankan?”
“Sudah, ustadz.”
“Apakah kamu mengkhatamkan Al Quran?”
“Tidak, aku tak mampu menyelesaikan lebih dari separo
Al Quran.”
“Wahai anakku, itu cukup baik. Nanti malam,
hadirkanlah bayangan wajah salah seorang sahabat Rasulullah, mereka adalah
orang-orang yang telah mendengarkan Al Quran langsung dari Rasulullah, lalu
bacalah di depannya dan hati-hati jangan sampai salah.”
“Insyaallah, ustadz. Saya akan lakukan.” jawab sang
murid.
Keesokan harinya, ia bertanya lagi, “Apakah kamu sudah
melakukan apa yang aku pesankan?”
Murid itu menjawab, “Saya tak mampu membaca lebih dari
seperempat Al Quran.”
“Baiklah, nanti malam kamu bayangkan wajah Rasulullah
yang telah menerima wahyu Al Quran itu dan sadarlah di depan siapa kamu sedang
membaca.”
“Baik, ustadz.”
Keesokan harinya, ketika guru bertanya, murid itu
menjawab,
“Aku tak mampu membaca lebih dari satu juz saja atau
sekitar itu.”
“Wahai anakku, nanti malam kamu bayangkan wajah Jibril
yang telah mendiktekan Al Quran kepada Rasulullah, bacalah di depannya dan
sadarlah di depan siapa kamu sedang membaca.”
“Baik, ustadz.”
Keesokan harinya, ketika ia bertanya, murid itu
menjawab,
“Saya tidak mampu membaca lebih dari beberapa ayat
saja.” sambil menyebutkan ayat-ayat Al Quran yang ia baca.
“Wahai anakku, malam nanti bertaubatlah kepada Allah
dan menunduklah. Ketahuilah bahwa orang yang sedang shalat itu adalah orang
yang sedang berduaan dengan tuhannya. Renungkanlah apa yang kamu baca. Yang
terpenting bukanlah memperbanyak bacaan, tapi tadabbur (menghayati) ayat-ayat
yang kamu baca. Maka, jangan sampai kamu lalai.”
Keesokan harinya, sang guru tidak menemui murid itu.
Ada yang mengatakan bahwa ia sedang sakit. Lalu ia menjenguknya.
Ketika melihat wajah ustadznya, murid itu menangis sambil
berkata,
“Wahai ustadz, semoga Allah membalas anda dengan
kebaikan. Aku belum pernah menyadari bahwa aku telah berbohong kecuali semalam
tadi. Semalam aku telah membayangkan wajah Allah dalam shalatku, lalu aku pun
merasa berat ketika membaca Al Quran di depan-Nya, aku tidak bisa menyelesaikan
surat Al Fatihah kecuali hanya sampai Maliki Yaumiddin saja. Ketika aku hendak
membaca Iyyaka na’budu, aku malu. Aku merasa telah berdusta di hadapan Allah.
Aku mengaku hanya menyembah-Nya saja, tapi kenyataannya aku masih lalai dalam
menyembah-Nya. Aku tidak bisa ruku’ sampai terbit fajar. Aku takut menghadap
Allah dalam keadaan yang tidak aku sukai ini.”
Tiga hari kemudian, murid tersebut meninggal dunia.
Ketika dimakamkan, sang ustadz mengunjungi kuburannya lalu bertanya tentang
keadaannya di sana. Tiba-tiba ia mendengar suara pemuda itu dari bawah kuburan,
“Wahai Ustadz, saya hidup di sisi Sang Maha Hidup. Dia tidak menghisabku
sedikit pun.”
Kemudian ustadz itu pulang ke rumahnya dalam keadaan
sakit, ia terbaring di atas ranjang akibat melihat kejadian itu. Tak lama
kemudian, ia pun meninggal dunia menyusul pemuda tersebut.
Syaikh Ibnu Arabi berkata, “Barangsiapa membaca iyyaka
na’budu seperti bacaan pemuda itu, ia telah benar-benar membacanya.”
(Sumber: Al Futuhan Al Makkiyah: Safar 6 hal. 297 cet.
Sorbon; 2/6-7 Maktabah Syamilah)
Saudaraku, sudah berapa kali kita shalat? Pernahkah
kita merasakan apa yang dirasakan oleh pemuda tadi? Sungguh, seandainya setiap
orang yang shalat menghayati ayat-ayat yang sedang ia baca, niscaya shalat itu
akan menjadi energi luar biasa yang akan merubah dirinya. Allah SWT berfirman,
“Sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar.” Rasulullah SAW
bersabda, “Seseorang yang shalat sedang berduaan dengan Tuhannya.”
Wallahu a’lam bis showab.
Semoga bermanfaat.


0 komentar:
Posting Komentar