MAKALAH ANALISIS KASUS TERORISME DAN KETAHANAN NASIONAL
Selasa, 09 Oktober 2012
0
komentar
TERORISME DAN KETAHANAN NASIONAL
1.
Akar
masalah terorisme atas nama agama di Indonesia
Di awal abad 21 ini, nampaknya kata terorisme menjadi
sesuatu yang paling menarik dan tidak pernah berhenti untuk dikaji. Yang
paling menarik dari masalah terorisme ini adalah bahwa stigmanya ditujukan pada
salah satu agama, yaitu Islam, meski bila kita telusuri tindakan kekerasan
mengatasnamakan agama sebenarnya ada pada hampir semua agama. Keberadaan
teroris yang membawa bendera Islam ini memang ada dan tidak bisa dikesampingkan
aksi-aksinya. Keberadaan mereka tidak hanya mengancam peradaban Barat, tetapi
juga merusak Islam itu sendiri. Dalam khazanah sejarah Islam, kelompok semacam
al-Qaedah ini sudah ada dalam bentuk Khawarij dan Assassin. Khawarij terbentuk
karena ketidakpuasan pada kepemimpinan Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah.
Sedangkan Assassin adalah sekelompok pembunuh Syi’ah yang membunuh para ulama
Sunni dan pejabat Sunni dari Daulah Abbasyiah. Mencari akar pemikiran terorisme
ini akhirnya kita harus melihat sejarah gelap kehidupan di Arab Saudi.
Masuknya teroris di Indonesia memang masih banyak
perdebatan. Salah satunya seperti ada yang setelah belajar dari Timur Tengah
menjadi kaki-tangan al-Qaedah, namun jumlahnya sangat kecil. Yang paling
mungkin sekarang ini adalah perekrutan langsung di Indonesia, dengan
menyuntikkan doktrin-doktrin dan pandangan yang sesat kepada pemuda yang lemah
imannya demi tercapainya kepentingan sekelompok orang yang tidak bertanggung
jawab.
2.
Peran
Media Masa Terhadap Terorisme.
Media Massa memberikan kesadaran dan mempengaruhi
pemikiran publik dalam bentuk narasi dan berita yang kemudian di asumsikan
sebagai sesuatu yang realita.Dan Media mampu memfokuskan perhatian publik dan
mempengaruhi persepsi publik tetntang apa yang menjadi isu yang penting.
“Kemampuan mempengaruhi dan mengarahkan publik agar berfikir tentang isu
tertentu, sehingga menjadi prioritas pemikiran dan topik pembicaraan, di kenal
sebagai peran penempatan agenda media.” (McCombs,2006:11) Sedangkan menurut
Kepala Badan Nasioanal Penanggulangan Terorisme, Inspektur Jendral Ansyaad Mbai
(kompas, 19/03/2011) mengatakan Media massa digunakan para pelaku teror untuk
menyebarluaskan pesan aksi mereka dan menimbulkan kepanikan masyarakat. Media
Massa juga berperan sebagai corong para pelaku teror. Di samping itu Media
massa untuk memblow up reaksi brutal dari pemerintah.
Dalam konteks realitasnya tindakan terorisme adalah salah
satu bentuk komunikasi juga, Karena para teroris biasanya mengekspos tindakan
mereka itu dengan memanfaatkan media massa. Dan ini biasanya merupakan bagian
terbesar dari sebuah ulasan berita dari media itu sendiri. Dan akibatnya adalah
seringkali adanya salah paham terhadap istilah media terorism dalam menangkap
maksud dari teroris untuk mengkomunikasikan perbuatan dan tindakannya itu sebagai
ketundukan media. Hal ini karena para teroris biasanya bermaksud untuk mendapat
ekspos media terhadap tindakan mereka sehingga pemerintah bisa mengetahui
keinginan teroris mengapa mereka melakukan teror dan menemukan sebuah realitas
bahwasanya media merupakan sarana penghubung antara pemerintah dengan warga
negara.
3.
Cara
Ketahanan Nasional mengantisipasi atau mencegah terjadinya terorisme atas nama
agama tertentu dibumi Nusantara
Dalam mengupayakan pencegahan dan penanggulangan
terorisme, Badan Intelijen Negara telah menerapkan strategi supremasi hukum,
indiskriminasi, independensi, koordinasi, demokrasi, dan partisipasi dalam
upaya pencegahan dan penanggulangan terorisme. Melalui strategi supremasi
hukum, upaya penegakan hukum dalam memerangi terorisme dilakukan sesuai dengan
peraturan perundangan yang berlaku. Strategi indiskriminasi yang mensyaratkan
upaya pencegahan dan penanggulangan diberlakukan tanpa pandang bulu, serta
tidak mengarah pada penciptaan citra negatif kepada kelompok masyarakat tertentu.
Prinsip indepedensi juga dilaksanakan untuk tujuan menegakkanketertiban umum
dan melindungi masyarakat tanpa terpengaruh tekanan negara asing dan kelompok
tertentu. Penanggulangan terorisme dilaksanakan dengan melakukan koordinasi
antara instansi terkait dan komunitas intelijen serta partisipasi aktif dari
komponen masyarakat
4.
Solusi
masalah terorisme atas nama agama tertentu di Indonesia
Maraknya aksi terorisme di indonesia di picu oleh
pemahaman agama yang sempit.Hal ini sangat berbahaya keberadaanya, karena
mereka beranggapan bahwa kelompok dan komunitasnya yang benar dan yang lainnya
adalah salah. Selain berkaitan dengan masalah pemahaman agama yang salah
kaprah, aksi terorisme ini juga dipicu oleh ketimpangan ekonomi dan alienasi
sosial di tengah pluralisme dunia dan negara bangsa yang cenderung
materialistik. Demokrasi yang mengandaikan pluralisme pada awalnya diharapkan
dapat mengatasi munculnya pandangan sempit (sebagai akar-akar radikalisme),
tetapi hal itu saja jelas tidak cukup. Demokrasi, pluralisme, harus berjalan
seiring dan sinergis dengan perbaikan ekonomi dan pembangunan sosial. Pemerintah
juga harus terus berupaya menegakkan keadilan di masyarakat dan pemerataan
pembangunan di segala bidang. Ideologi radikal mudah terbentuk dan berkembang
mekar di masyarakat yang ketimpangan sosial ekonominya sangat tajam.
#Sekedar berbagi dan Sharing ^_^
semoga bemanfaat..
Nama :
SYABRIANTO ARIF WIJAYA
NIM : 019107444
UPBJJ-UT :
PEKANBARU
SEMESTER : 1 (SATU)
PRODI : MANAJEMEN-S1









