Inikah Perang Dunia Selanjutnya ??
Jumat, 08 Juni 2012
0
komentar
Masih membekas dalam benak kita betapa perihnya tragedi kemanusiaan terbesar sepanjang sejarah dunia. Perang Dunia II yang berlangsung tahun 1939-1945 dimana melibatkan lebih dari 100 juta personel berakhir dengan Sekutu sebagai pemenang secara militer, sedangkan perang politik dan ideologi masih terus berlanjut ke dalam arena baru, yang dinamakan dengan Perang Dingin, yakni antara Blok Barat di bawah pimpinan Amerika Serikat dengan Blok Timur di bawah Uni Soviet[1].
Blok Barat membawa ideologi
liberalis-kapitalis sedangkan Blok Timur membawa ideologi sosialis-komunis.
Pada tahun 1980-an, Amerika Serikat unggul atas Uni Soviet, hingga pada
akhirnya pada tahun 1991 Perang Dingin selesai dengan ditandai runtuhnya
idelogi komunisme[2]. Inilah yang dinamakan dengan fenomena dominasi, yakni dua
kekuatan besar dunia akan saling berbentur hingga pada akhirnya munculah satu
kekuatan sebagai pemenang.
Setelah berakhirnya Perang Dingin,
runtuhnya Soviet dan dicampakkannya komunisme, maka telah menciptakan “vakum
(kekosongan) ancaman” yang menyebabkan dunia Barat mencari musuh-musuh baru.[3]
Jika rentang tahun 1945 hingga 1991 dua kekuatan besar dunia itu adalah Barat
dengan ideologi liberal-kapitalisnya dan Uni Soviet dengan sosialis-komunisnya.
Maka siapakah kini dua kekuatan besar dunia pasca runtuhnya komunis ?
Jawabannya adalah Barat dan Islam. Sebuah tesis dari pakar politik Harvard
University, Samuel P. Huntington menyebutkan adanya Clash of Civilisation (benturan peradaban) antara Peradaban Barat dengan
Islam[4].
Hal ini juga dikuatkan oleh Menteri Luar
Negeri Italia menjelang persidangan NATO di London yang mengatakan, “Perang Dingin
antara Barat dengan Timur (komunis Uni Soviet) telah berakhir, tetapi timbul
lagi pertarungan baru, yaitu pertarungn antara Dunia Barat dan Dunia Islam.”[5]
Jutaan kaum Muslimin di Asia Tengah yang
sebelumnya terpuruk di bawah kezaliman komunis Soviet, kembali menemukan jati
dirinya sebagai Muslim dan berupaya mengekspresikannya sekaligus menjadikan
Islam sebagai ideologi alternatif pengganti komunisme. Dalam artikel yang
berjudul “Karl Max Makes Room for Muhammad” di majalah Time edisi 12 Maret 1990,
juga menyebutkan bahwa negara-negara Asia Tengah anggota federasi Uni Soviet
seperti Azerbaian, Tajikistan, Kazakhstan, Turkmenisten, Uzbekistan,
Kirghizstan kini berpenduduk mayoritas Islam (antara 50% hingga 90%). Jelas ini
merupakan salah satu tanda bahwa Ideologi Islam mulai kembang subur di kancah
dunia.
Inikah perang dingin selanjutnya ?
Peradaban Islam merupakan ancaman besar bagi Peradaban Barat. Islamlah yang
pernah mengalahkan Barat pada Perang Salib silam (1096-1291 M), dan dari sini
tentu menimbulkan dendam kesumat Barat terhadap Islam. Epistemologis [6] .
Islam jelas berbeda sekali dengan epistemologis barat. Epistemologis Islam
menempatkan Tuhan(red: Allah) sebagai pusat, atau disebut juga dengan istilah
Teosentris. Sedangkan epistemologis Barat menempatkan manusia sebagai pusat
tatanan, disebut dengan istilah Antroposesntris, sehingga konsep-konsep Barat
bersumber dari inspirasi humanistik rasional.
Ambil contoh dalam memandang hakikat
kebenaran. Epistemologis Islam memandang jika kebenaran mutlak bersumber dari
Tuhan(wahyu), karena rasionalitas manusia itu terbatas sehingga tidak semua
kebenaran bisa dibuktikan secara rasional. Dan hingga kini, Al-Qur’an terus dan
akan tetap sejalan dengan perkembangan sains, karena Al-Qur’an merupakan wahyu
Tuhan yang otentik. Sedangkan Barat memandang kebenaran secara
materialis-empiris (tampak dan terbukti).
Hal ini dikarenakan Barat mengalami
tragedi spiritual yang amat buruk, dimana para ilmuwan sains pada tahun 1600-an
M (seperti Galileo dan Copernicus) dihukum karena dianggap telah menentang
Gereja, sehingga komunitas ilmuwan akhirnya sepakat bahwa kebenaran sejati akan
didapat jika mereka berlepas diri dari dogma Gereja dan menggunakan
rasionalitas mereka untuk membuktikan kebenaran secara empiris.
Perbedaan Islam dan Barat jelas akan
menimbulkan benturan hebat dalam peradaban dunia seperti yang disebutkan Samuel
P. Huntington. Salah satu akibatnya, negara-negara dunia yang men-declare
sebagai negara Islam atau negara dengan mayoritas penduduk Islam akan cenderung
menolak sistem Barat. Dan telah kita ketahui bersama bahwa potensi energi dunia
tersimpan di rahim bumi negara-negara Islam, sehingga dalam konteks ini hasrat
barat untuk menguasai minyak bumi menjadi terhambat.
Selain itu, penyebab permusuhan Islam
dengan Barat adalah kesalah pahaman Barat dalam memahami Islam. Barat pada
umumnya mempelajari dan memahami Islam dari buku-buku para orientalis,
sedangkan para orientalis mengkaji Islam dengan tujuan untuk menimbulkan
miskonsepsi terhadap Islam, selain adanya motif politis yaitu untuk mengetahui
rahasia kekuatan umat Islam yang tidak lepas dari ambisi imperealis Barat untuk
menguasai dunia Islam.
Hal ini diperparah dengan sajian media
yang menampilkan bukan “Islam kebanyakan” (Sunni), melainkan Syi’ah (Iran) yang
hanya dianut oleh sekitar 10% kaum Muslimin dunia. Akbar S.Ahmed menuliskan,
“Syi’ah menjadi perwakilan Islam di media Barat.”[7] Dan seperti kita ketahui
bersama bawasannya Iran ialah negara yang lantang menentang Barat, dan
akibatnya sejak tahun 1980 hingga kini Iran telah diembargo oleh Barat.[8] Iran
kini terisolasi dari dunia luar, terislolasi dari akses ekonomi dunia dan
teknologi modern, namun dari sini Iran justru menunjukkan bahwa negrinya bisa
bangkit secara mandiri dan independen tanpa adanya dunia Barat.
Is
it the next Cold War ? Kini permusuhan itu semakin nyata. Adanya konflik
Palestina yang menguras banyak air mata umat Islam di penjuru dunia menjadi
bukti nyata perseruan itu. Israel tetap mendapatkan dukungan Barat (AS) ketika
Zionis Yahudi sekuat tenaga menghalangi terbentuknya negara Palestina merdeka.
Barat juga berusaha membasmi gerakan-gerakan Islam seperti Hizbullah di
Lebanon, Ikhwanul Muslimin di Mesir, Islamic National Front di Sudan, Partai
Front Keselamatan Islam (FIS) di Aljazair, Taliban di Mesir, termasuk turut
campur dalam revolusi Timur Tengah yang terjadi belakangan ini.
Catatan:
[1] Supriatna, Nana. 2006. Sejarah.
Bandung: Grafindo (halaman 66)
[2] Adams, Simon. 2008. Atlas Dunia
Modern. Jakarta: Erlangga (halaman 30)
[3] Esposito, John L. 1997. Bahaya
Hijau: Kesalahpahaman Barat terhadap Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar
(halaman 3)
[4] Syamsul, Asep. 2000. Demonologi
Islam. Jakarta: Gema Insani Press
[5] Newsweek, 2 Juli 1990
[6] Dasar-dasar dan batas-batas
pengetahuan (KBBI)
[7] Akbar S. Ahmed. 1997. Living Islam
(halaman 77)
[8] Sulaeman, Otong. 2010. Dari Jendela
Hauzah. Bandung: Mizan (halaman 140)


0 komentar:
Posting Komentar